chapter tujuh. bagian tiga.

27 Des

My hands are tied, my body bruised
She´s got me with nothing to win
And nothing left to lose.

And you give yourself away
And you give yourself away
And you give, and you give
And you give yourself away.

With or without you
With or without you
I can’t live
With or without you.

Gue nggak mau ngomong macem-macem. Gue benci harus ngeyakinin orang. Gue benci menjelaskan tentang diri gue sendiri.

Gue pulang dari McD dengan perasaan yang campur aduk. If you love them, let them go. Kalo gue balik sama Dita sekarang, maka nggak ada justifikasi buat Ninda kemaren. Atau nggak ada justifikasi untuk hal-hal yang (mungkin) nanti akan gue lakukan. Dan gue benci orang curang yang mau dua-duanya yang takut kehilangan semua. Gue pengen benerin diri gue sendiri dulu, gue pengen mikir sendiri dulu. Gue pengen main xbox di rumah Brian, gua pengen ngunjungin sepupu gue yang di Jogja, gue pengen melihara husky, gue pengen nyoba magang di UNDP, gue pengen nyoba hal-hal yang selama ini gak sempet buat gue lakuin. Gue pengen keluar semaleman dan gue pengen ngerokok dengan jendela kebuka dan ngobrol sama tukang parkir. Gue pengen ke KFC jam 2 pagi dan merasa kesepian. Gue pengen dengerin U2 – With or Without You dan merasa ini lagu kok gue banget. Gue pengen lari pagi sampai mau pingsan.

Gue pengen.

Gue pengen sendiri. Gue bisa survive. Dita bisa survive.

Gue ketemu Dita pas gua 17 tahun. It’s been awhile since I was 17. Gue ngerasa seperti Peter Parker yang belom digigit laba-laba. Gue didesain untuk melakukan sesuatu yang hebat, yang bisa bikin bokap nyokap gue bangga.

Tapi umur gue 20 tahun dan gue belom juga berubah menjadi Spiderman.

Itulah kenapa gue mulai nulis. Esai politik, cerita pendek, cerita bersambung, Redaksi YTH, bahkan gua akan mengarang cerita palsu dramatis yang bisa dimuat di kolom saran Femina.

“Saya wanita berinisial F, berumur 27 tahun dengan anak satu, hasil luar nikah. Saya mencintai pria berinisial N yang berumur 20 tahun lebih tua dari saya, yang tinggal di kota S, sedangkan saya tinggal di kota J. sebulan sekali kami bertemu, dimana ketika itu, anak saya dititipkan ke Ibu saya, S. Ternyata, J juga berhubungan dengan Ibu saya, tanpa mengetahui bahwa kami adalah Ibu dan anak. Ibu saya masih berstatus istri dari bapak angkat saya, anaknya (saudara angkat saya) yang bernama H merupakan ayah dari anak saya (saya tidak tahu ketika itu bahwa dia akan menjadi saudara angkat saya). Saya hanya ingin tanya, YA TUHAN! APA SIH YANG SALAH DENGAN DUNIA INI?!”

Kira-kira begitu cerita-cerita yang gue tulis.

Chapter Tujuh. Bagian Dua.

29 Agu

It’s like, kalo sekarang kita fast-forward ke waktu sebulan lagi. Gua yakin bisa bilang bahwa semuanya baik-baik aja. Lebih baik dari baik bahkan. Better. Great.

Everything is peachy.

Tapi ketika pikiran gua kembali ke McDonalds waktu itu dan perasaan kesepian yang luar biasa di tengah keramaian. Berharap suatu “invisible hand” yang ada di teori ekonomi yang berkata bahwa keadaan pasar akan selalu menyesuaikan diri, maka tidak perlulah kita melakukan apa-apa, selain..menerima.

Dan menerima bahwa merasa melankolis itu tidak apa-apa. Banyak orang kelaparan di Afrika sana. Apalah artinya putus cinta?

Nikmatin aja. Seperti sayatan pada pergelangan tangan para penyilet. Nikmatin aja. The pain is real.

Jadi Diego kembali dari mengambil saus. Cara dia jalan begitu menawan. Diego memiliki kepercayaan diri di langkahnya, seolah-olah ia selalu yakin akan apa yang dilakukannya. Itulah yang gua suka dari Diego. Gua nggak bisa bayangin kalau sampai ada cewek lain yang bisa melihat Diego dengan cara gua melihat Diego. Cewek itu pasti jatuh cinta setengah mati.

Diego duduk, dan tersenyum. Gua memegang pipinya. Dia mencium jari gua. Gua tersenyum. Siapapun yang melihat kita sekarang pasti melengos. Sebelumnya, berjuta hal melintas di kepala gua. Sekarang, semua itu lenyap, seolah diserap oleh apa yang ada di depan gua.

Jadi gua terkejut setengah mati ketika Diego tersenyum dan bilang, “Maaf ya Dita, mungkin ada baiknya kita sendiri-sendiri dulu.”

Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah, gua ngerti. Gua bener-bener ngerti. Diego nggak melakukan sesuatu yang dramatis seperti tiba-tiba melepas tangan gua dan pergi. Mimiknya nggak berubah. Matanya tetap berkilat dan pupilnya membesar. Kata sains, pupil kita membesar kalau kita melihat orang yang kita sayang. Makanya gua bisa ngerti. Gua juga nggak bersikap dramatis dan kaget dan menyiram mukanya dengan coca-cola (yang menurut gua cuma ada di sinetron-sinetron, tidak ada gadis yang mempunyai harga diri serendah itu sehingga bisa mempermalukan orang lain di depan umum). Gua tersenyum, dan mimik gua juga nggak berubah.

Diego boleh pergi, tapi Diego pasti akan balik lagi. Gua pasti akan balik lagi. Perasaan-perasaan kita dulu pasti akan balik lagi. Pasti ada jalannya. Persis seperti lagu Mariah Carey, Always Be My Baby.

chapter tujuh. bagian satu.

29 Agu

So here we go again.

Kita kembali ke masa sekarang di McDonalds. There’s always this thing of feeling lonely in crowded places.

Gua bilang gua mau mikir dulu, gua pengen hold out, gua pengen dia serius. Gua nggak peduli kalau memang Diego harus pergi nantinya, gua cuma..

Apa ya?

Sekarang, setengah dari gua berharap gua kembali secepatnya sama Diego, setengah dari gua berharap bahwa Diego bisa grovel and beg, sebelum eventually gua balik sama dia.

I’m a sucker for drama, dan secretly, im enjoying this. This is why we broke up in the first place.

Diego left, by the way, collecting his thoughts, it seems. Now I am alone.

Gua suka memperhatikan orang, gua suka ngelihat cowok dan berhayal gimana rasanya pacaran sama orang ini, based on what he looks like. Gua buat skenario apa saja yang akan kita obrolin, apakah dia tipe orang yang suka memberi hal-hal nggak penting seperti bunga dan boneka, apakah dia tipe yang spontan, apakah dia tipe yang pergi ke club, dan lain-lainnya.

Jika Diego berdiri disitu, di tempat mengambil saus, dan gua nggak kenal dia, gua bisa buat skenarionya.

Gua kangen rasanya mengenal orang baru, dan menemui sifat-sifat yang gua suka dan gua nggak suka. Gua kangen rasanya baru kenal sama Diego dan mendiscover hal-hal kecil tentang dia di perjalanan pulang sekolah. Gua kangen perasaan misterius yang menyelimuti Diego di awal gua kenal dia. Sekarang Diego adalah orang yang wajar dan predictable dan mungkin itu yang membuat gua..

Apa ya?

The heart wants what it wants.

Chapter Enam. Bagian Empat.

18 Jul

Keesokan harinya, Diego menelfon, ketika Dita sedang dijalan pulang. Seperti selisip kayu di kulit yang hampir terlupakan, Dita menyadari bahwa, the pain is real. Seberapa ampuh pun anestesinya, ketika habis, ketika rasa sakitnya datang, rasa sakit itu datang 2 kali lebih hebat.

Dita mencoba hold her ground. Tapi Ia tahu di momen ini, bahwa setidaknya untuk waktu yang lama, hatinya berada pada Diego. Ia tidak bisa melupakannya sekarang. Ia tidak akan bisa melupakannya besok, atau 100 hari kemudian, atau 1000 hari kemudian. The pain is real, ulangnya.

Sebulan sebelumnya, Dita merasa takut bahwa Ia terlalu terlibat dengan Diego, terlalu dekat, Ia tidak pernah sedekat itu dengan siapa-siapa. Sudah 3 tahun bersama Diego, dan sebulan yang lalu, Dita mengalami pikiran-pikiran irasional yang menghantuinya setiap kali ia pulang setelah bersama dengan Diego. “Gimana kalo kita kenapa-napa,” “Gimana kalo dia selingkuh,” “Gimana kalo gue end up getting hurt.” Beranut pada Sun Tzu, si penulis buku Art of War, Dita mengambil suatu keputusan yang sama irasionalnya seperti pola angka pada nilai pi. Tinggalkan, sebelum Ia meninggalkan kamu. Attack before you get hurt. Bahwa offense, is the best defense.

Jika Dita mengingatnya, sungguh radikal! Sungguh bodoh! Sungguh ketakutan yang tidak beralasan! Sungguh sesuatu yang hanya berasal dari proyeksi diri sendiri yang mungkin merasa bosan dalam hubungan 3 tahun ini. Mungkin gua yang bosan, mungkin gua yang ingin macem-macem. Mungkin gua yang sok. Dita tidak yakin pada saat itu bahwa Diego adalah orang yang diinginkannya untuk menghabiskan waktu bersama. Dita merasa penasaran.

Tetapi dia tahu sekarang, theres no one quite like him. Dan awalnya Diego merasa santai dengan proposal Dita untuk mengakhiri hubungan, namun Diego tidak menjaga jaraknya seolah-olah Ia tahu segala keirasionalan Dita, Ia tidak merasa ada yang salah kalau Ia mendekati Dita lagi, seperti awal permulaan semuanya, bahkan lebih baik, jauh lebih baik. Dan Dita, Tuhan maafkan dia, jatuh cinta lagi.

Diego terlihat sangat yakin dalam sebulan ini, dan Dita seperti anak anjing hilang yang tersesat dari rumah majikannya. Dita merasa kembali ke tempat familiar yang nyaman, yang dulu Ia rasakan, ini seperti Diego versi baru. Mungkin a break is all they need. Mungkin it’s all she needs.

Tetapi, kemarin, hal seperti itu, it’s bound to happen. Apa yang Dita expect, apa yang dia harapkan dari seseorang yang bahkan Ia sendiri biarkan pergi? Apakah Dita senaif itu sehingga sekarang Ia kaget bahwa ada cewek lain yang tertarik di waktu yang singkat dengan Diego? Diego menarik, lebih dari teman-temannya, lebih dari cowok lain seusianya. Ada appeal yang tersimpan sangat rapi di dalam Diego. Dan ketika pesona itu keluar, Dita merasa Diego itu irresistible. Siapapun pasti merasa begitu kalau saja Diego mengeluarkan pesonanya.

Dita mencoba mengingat apa yang membuanya tertarik setengah mati. Antara kekanak-kanakannya, matanya yang tulus, yang kadang Dita berani bersumpah Ia bisa melihat kilatan-kilatan nakal dimatanya ketika mereka melakukan sesuatu yang spontan, antara keseriusannya yang tiba-tiba, candaannya yang tidak pantas, cara pandangnya terhadap dunia yang cukup progresif, diskusi-diskusinya tentang politik dan hal-hal lain di TV. Ketidaksukaannya yang tidak rasional terhadap kucing, profesi DJ, dan artis sinetron. Kesukannya terhadap hal-hal yang simpel seperti bangun dan lari pagi dan duduk di beranda. Urat-urat di tangannya, musik pilihannya, cara rambutnya menutupi matanya ketika Ia sedang bekerja.

Dita bisa mengingat semuanya. Dita seharusnya tidak pernah meragukan Diego. Dita hanyalah meragukan diri sendiri, dan akibatnya, ialah yang harus menanggung.

Diego ingin bertemu besok, Dita mengiyakan. Ia akan memberikan apa saja untuk bisa melihat Diego. Seketika itu saja, Dita tidak peduli dengan circumstances lain, Ia tidak peduli tentang apa yang dia lihat. Dia cuma ingin mengambil apa yang dapat Ia peroleh, dan hal yang dapat Ia perolah adalah pertemuan dengan Diego.

Chapter Enam. Bagian Tiga.

18 Jul

Beberapa jam kemudian, Dita masih sulking around, seperti janda setengah baya yang ditinggal mati suaminya karena perang yang berlangsung setengah abad. Each memory, each touch, each whisper, each smile, membuat Dita tertahan di limbo antara dunia nyata dan kamarnya yang aman.

Dita mencoba memisahkan Diego yang dia tahu selama bertahun-tahun dan Diego yang kemarin dilihatnya. Diego yang lama sudah hilang entah kemana, namun memorinya masih melekat. Dita duduk memeluk kakinya. Dia belum menangis. Dia tidak ingin menangis sama sekali. Dia tidak punya cukup energi untuk luapan emosi seperti itu. Dia merasa seperti ikan yang sudah dibersihkan guts-nya, merasa seperti tinggal kulit dan rambut, tidak ada lagi yang tersisa. I’m just an empty shell, an empty space where my soul used to be.

Mungkin dengan perspektif, Dita bisa menyadari bahwa banyak hal di dunia ini yang lebih buruk dari melihat pacarmu-yang-tapi-sudah-putus bercakap-cakap dengan cewek lain. Tetapi tentu saja, Dita hidup di dunianya sendiri, dan dia bisa merasakan bagaimana ekspresi Diego kemarin setiap kali ia menutup matanya. Ia bisa merasakan Diego setiap saat tengorokannya tercekat, setiap kali ia menyusuri rambutnya sendiri, ia bisa merasakan jari Diego disitu.

Sungguh gila.

Jadi Dita keluar kamar, memasang shower sepanas mungkin yang dapat dia tahan, dan menangis sejadi-jadinya.

Chapter Enam. Bagian Dua.

2 Mei

Gua mengecek handphone.

Diego nggak nelfon gua dari kemarin. All hope is lost.

He doesn’t care. He doesn’t.

HE DOESNT FUCKING CARE. Gua nggak bilang gitu keras-keras. Kata-kata itu tersirat dari betapa kerasnya handphone esia gua banting. Batere, sim card dan tutup belakangnya terlepas. I don’t care.

Gua kembali ke selimut dan membaca komik. Korden masih tertutup rapat dan di luar hujan deras.

Nope. Nggak perlu datang kelas pagi ini.

Dunia nggak adil hari ini.

Chapter Enam. Bagian Satu.

2 Mei

Jadi Dita melihat gua ngobrol sama Ninda.

Big fuckin deal, right?

I shouldn’t care, tetapi iya gue peduli. Cara gue melihat hal adalah, ini bisa berjalan dua arah. Ini bisa mengatakan bahwa gue oke, dan gue getting by, dan gue nggak terlalu peduli apa kata orang. Tapi ini juga bisa mengatakan bahwa, gue terlalu ngoyo. Gue terlalu sengaja. Gue terlalu gimana-gimana.

Tetapi tentu saja dengan pikiran Dita, dia pasti mikir gue masuk yang kategori pertama. Ya Allah, hal-hal nggak bisa lebih miserable dari ini. Gue anak yang biasa-biasa aja. Cowok yang terlalu biasa bahkan, yang nggak blow my money all at once di club atau di some dodgy pijat plus-plus place.

I’m a good guy if you have some perspective.

Tapi rasanya aneh juga, karena memang masih ada yang mengganjal. Seperti tahi yang nggak bisa dikeluarkan meskipun lo mules sepanjang hari. Seperti menghisap rokok tapi nggak ngeluarin asapnya lagi. Seperti gue melakukan pekerjaan tapi nggak gue selesaikan.

Gue ama Dita emang ngak selalu sama-sama, tapi meskipun gue nggak pengen, dia ada di pikiran gue. Bohong kalo gue bilang gua 100% nggak ada keinginan untuk memeluk Dita yang sedang beli susu dan bilang:

“Ayo, pulang, biar Ninda dianter temen kamu yang botak gay dan sok-sok lihat-lihat korek itu”

Shit happens. Get on with it.

Gue sama Ninda ngobrol kemarin, gue mulai mengerti kenapa dia bisa dianggap murahan. The looks, the way that she looks at you, the sneer of her lips, the way she tosses her hair, the way she leans close to you when she talks. Tapi gue juga mengerti dia cuma cewek biasa. Cuma seorang cewek biasa lainnya yang lo bisa temuin di mana aja di Jakarta. Dia pengen hidup dengan cara dia sendiri, dan dia juga punya mimpi, punya aspirasi, yang akan dia capai dengan caranya sendiri yang nggak ortodoks. Ninda mengagetkan gue karena ternyata dia cukup luas pengetahuannya, dan cara berpikirnya praktis dan masuk akal. Seolah-olah dunia ini semua orang bisa dimasukkan di dua keranjang. Keranjang pribadi Ninda yang akan melabel setiap orang ‘berkenan’ dan ‘tidak berkenan’ di buku kecilnya.

Ninda nggak pernah melakukan kesalahan yang sama dua kali. Dia nggak pernah mess dengan orang yang sama dua kali.

When I’m done with her, surely gue akan masuk di keranjang ‘tidak berkenan’-nya dia.

Jadi gue stand by my decisions, dan tidak mencoba menghubungi Dita.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.