So here we go again.
Kita kembali ke masa sekarang di McDonalds. There’s always this thing of feeling lonely in crowded places.
Gua bilang gua mau mikir dulu, gua pengen hold out, gua pengen dia serius. Gua nggak peduli kalau memang Diego harus pergi nantinya, gua cuma..
Apa ya?
Sekarang, setengah dari gua berharap gua kembali secepatnya sama Diego, setengah dari gua berharap bahwa Diego bisa grovel and beg, sebelum eventually gua balik sama dia.
I’m a sucker for drama, dan secretly, im enjoying this. This is why we broke up in the first place.
Diego left, by the way, collecting his thoughts, it seems. Now I am alone.
Gua suka memperhatikan orang, gua suka ngelihat cowok dan berhayal gimana rasanya pacaran sama orang ini, based on what he looks like. Gua buat skenario apa saja yang akan kita obrolin, apakah dia tipe orang yang suka memberi hal-hal nggak penting seperti bunga dan boneka, apakah dia tipe yang spontan, apakah dia tipe yang pergi ke club, dan lain-lainnya.
Jika Diego berdiri disitu, di tempat mengambil saus, dan gua nggak kenal dia, gua bisa buat skenarionya.
Gua kangen rasanya mengenal orang baru, dan menemui sifat-sifat yang gua suka dan gua nggak suka. Gua kangen rasanya baru kenal sama Diego dan mendiscover hal-hal kecil tentang dia di perjalanan pulang sekolah. Gua kangen perasaan misterius yang menyelimuti Diego di awal gua kenal dia. Sekarang Diego adalah orang yang wajar dan predictable dan mungkin itu yang membuat gua..
Apa ya?
The heart wants what it wants.