Chapter Tujuh. Bagian Dua.

29 Agu

It’s like, kalo sekarang kita fast-forward ke waktu sebulan lagi. Gua yakin bisa bilang bahwa semuanya baik-baik aja. Lebih baik dari baik bahkan. Better. Great.

Everything is peachy.

Tapi ketika pikiran gua kembali ke McDonalds waktu itu dan perasaan kesepian yang luar biasa di tengah keramaian. Berharap suatu “invisible hand” yang ada di teori ekonomi yang berkata bahwa keadaan pasar akan selalu menyesuaikan diri, maka tidak perlulah kita melakukan apa-apa, selain..menerima.

Dan menerima bahwa merasa melankolis itu tidak apa-apa. Banyak orang kelaparan di Afrika sana. Apalah artinya putus cinta?

Nikmatin aja. Seperti sayatan pada pergelangan tangan para penyilet. Nikmatin aja. The pain is real.

Jadi Diego kembali dari mengambil saus. Cara dia jalan begitu menawan. Diego memiliki kepercayaan diri di langkahnya, seolah-olah ia selalu yakin akan apa yang dilakukannya. Itulah yang gua suka dari Diego. Gua nggak bisa bayangin kalau sampai ada cewek lain yang bisa melihat Diego dengan cara gua melihat Diego. Cewek itu pasti jatuh cinta setengah mati.

Diego duduk, dan tersenyum. Gua memegang pipinya. Dia mencium jari gua. Gua tersenyum. Siapapun yang melihat kita sekarang pasti melengos. Sebelumnya, berjuta hal melintas di kepala gua. Sekarang, semua itu lenyap, seolah diserap oleh apa yang ada di depan gua.

Jadi gua terkejut setengah mati ketika Diego tersenyum dan bilang, “Maaf ya Dita, mungkin ada baiknya kita sendiri-sendiri dulu.”

Tapi yang lebih mengejutkan lagi adalah, gua ngerti. Gua bener-bener ngerti. Diego nggak melakukan sesuatu yang dramatis seperti tiba-tiba melepas tangan gua dan pergi. Mimiknya nggak berubah. Matanya tetap berkilat dan pupilnya membesar. Kata sains, pupil kita membesar kalau kita melihat orang yang kita sayang. Makanya gua bisa ngerti. Gua juga nggak bersikap dramatis dan kaget dan menyiram mukanya dengan coca-cola (yang menurut gua cuma ada di sinetron-sinetron, tidak ada gadis yang mempunyai harga diri serendah itu sehingga bisa mempermalukan orang lain di depan umum). Gua tersenyum, dan mimik gua juga nggak berubah.

Diego boleh pergi, tapi Diego pasti akan balik lagi. Gua pasti akan balik lagi. Perasaan-perasaan kita dulu pasti akan balik lagi. Pasti ada jalannya. Persis seperti lagu Mariah Carey, Always Be My Baby.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.