Chapter Enam. Bagian Tiga.

18 Jul

Beberapa jam kemudian, Dita masih sulking around, seperti janda setengah baya yang ditinggal mati suaminya karena perang yang berlangsung setengah abad. Each memory, each touch, each whisper, each smile, membuat Dita tertahan di limbo antara dunia nyata dan kamarnya yang aman.

Dita mencoba memisahkan Diego yang dia tahu selama bertahun-tahun dan Diego yang kemarin dilihatnya. Diego yang lama sudah hilang entah kemana, namun memorinya masih melekat. Dita duduk memeluk kakinya. Dia belum menangis. Dia tidak ingin menangis sama sekali. Dia tidak punya cukup energi untuk luapan emosi seperti itu. Dia merasa seperti ikan yang sudah dibersihkan guts-nya, merasa seperti tinggal kulit dan rambut, tidak ada lagi yang tersisa. I’m just an empty shell, an empty space where my soul used to be.

Mungkin dengan perspektif, Dita bisa menyadari bahwa banyak hal di dunia ini yang lebih buruk dari melihat pacarmu-yang-tapi-sudah-putus bercakap-cakap dengan cewek lain. Tetapi tentu saja, Dita hidup di dunianya sendiri, dan dia bisa merasakan bagaimana ekspresi Diego kemarin setiap kali ia menutup matanya. Ia bisa merasakan Diego setiap saat tengorokannya tercekat, setiap kali ia menyusuri rambutnya sendiri, ia bisa merasakan jari Diego disitu.

Sungguh gila.

Jadi Dita keluar kamar, memasang shower sepanas mungkin yang dapat dia tahan, dan menangis sejadi-jadinya.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.