Keesokan harinya, Diego menelfon, ketika Dita sedang dijalan pulang. Seperti selisip kayu di kulit yang hampir terlupakan, Dita menyadari bahwa, the pain is real. Seberapa ampuh pun anestesinya, ketika habis, ketika rasa sakitnya datang, rasa sakit itu datang 2 kali lebih hebat.
Dita mencoba hold her ground. Tapi Ia tahu di momen ini, bahwa setidaknya untuk waktu yang lama, hatinya berada pada Diego. Ia tidak bisa melupakannya sekarang. Ia tidak akan bisa melupakannya besok, atau 100 hari kemudian, atau 1000 hari kemudian. The pain is real, ulangnya.
Sebulan sebelumnya, Dita merasa takut bahwa Ia terlalu terlibat dengan Diego, terlalu dekat, Ia tidak pernah sedekat itu dengan siapa-siapa. Sudah 3 tahun bersama Diego, dan sebulan yang lalu, Dita mengalami pikiran-pikiran irasional yang menghantuinya setiap kali ia pulang setelah bersama dengan Diego. “Gimana kalo kita kenapa-napa,” “Gimana kalo dia selingkuh,” “Gimana kalo gue end up getting hurt.” Beranut pada Sun Tzu, si penulis buku Art of War, Dita mengambil suatu keputusan yang sama irasionalnya seperti pola angka pada nilai pi. Tinggalkan, sebelum Ia meninggalkan kamu. Attack before you get hurt. Bahwa offense, is the best defense.
Jika Dita mengingatnya, sungguh radikal! Sungguh bodoh! Sungguh ketakutan yang tidak beralasan! Sungguh sesuatu yang hanya berasal dari proyeksi diri sendiri yang mungkin merasa bosan dalam hubungan 3 tahun ini. Mungkin gua yang bosan, mungkin gua yang ingin macem-macem. Mungkin gua yang sok. Dita tidak yakin pada saat itu bahwa Diego adalah orang yang diinginkannya untuk menghabiskan waktu bersama. Dita merasa penasaran.
Tetapi dia tahu sekarang, theres no one quite like him. Dan awalnya Diego merasa santai dengan proposal Dita untuk mengakhiri hubungan, namun Diego tidak menjaga jaraknya seolah-olah Ia tahu segala keirasionalan Dita, Ia tidak merasa ada yang salah kalau Ia mendekati Dita lagi, seperti awal permulaan semuanya, bahkan lebih baik, jauh lebih baik. Dan Dita, Tuhan maafkan dia, jatuh cinta lagi.
Diego terlihat sangat yakin dalam sebulan ini, dan Dita seperti anak anjing hilang yang tersesat dari rumah majikannya. Dita merasa kembali ke tempat familiar yang nyaman, yang dulu Ia rasakan, ini seperti Diego versi baru. Mungkin a break is all they need. Mungkin it’s all she needs.
Tetapi, kemarin, hal seperti itu, it’s bound to happen. Apa yang Dita expect, apa yang dia harapkan dari seseorang yang bahkan Ia sendiri biarkan pergi? Apakah Dita senaif itu sehingga sekarang Ia kaget bahwa ada cewek lain yang tertarik di waktu yang singkat dengan Diego? Diego menarik, lebih dari teman-temannya, lebih dari cowok lain seusianya. Ada appeal yang tersimpan sangat rapi di dalam Diego. Dan ketika pesona itu keluar, Dita merasa Diego itu irresistible. Siapapun pasti merasa begitu kalau saja Diego mengeluarkan pesonanya.
Dita mencoba mengingat apa yang membuanya tertarik setengah mati. Antara kekanak-kanakannya, matanya yang tulus, yang kadang Dita berani bersumpah Ia bisa melihat kilatan-kilatan nakal dimatanya ketika mereka melakukan sesuatu yang spontan, antara keseriusannya yang tiba-tiba, candaannya yang tidak pantas, cara pandangnya terhadap dunia yang cukup progresif, diskusi-diskusinya tentang politik dan hal-hal lain di TV. Ketidaksukaannya yang tidak rasional terhadap kucing, profesi DJ, dan artis sinetron. Kesukannya terhadap hal-hal yang simpel seperti bangun dan lari pagi dan duduk di beranda. Urat-urat di tangannya, musik pilihannya, cara rambutnya menutupi matanya ketika Ia sedang bekerja.
Dita bisa mengingat semuanya. Dita seharusnya tidak pernah meragukan Diego. Dita hanyalah meragukan diri sendiri, dan akibatnya, ialah yang harus menanggung.
Diego ingin bertemu besok, Dita mengiyakan. Ia akan memberikan apa saja untuk bisa melihat Diego. Seketika itu saja, Dita tidak peduli dengan circumstances lain, Ia tidak peduli tentang apa yang dia lihat. Dia cuma ingin mengambil apa yang dapat Ia peroleh, dan hal yang dapat Ia perolah adalah pertemuan dengan Diego.