Jenny Owen Youngs – Fuck Was I
Ketika Henri turun di Cilandak, dan gua melanjutkan perjalanan gua, banyak hal melintas di kepala. Inilah yang disebut mood kontemplatif. Inilah yang membuat siapapun bisa mendengarkan lagu yang sama diulang-ulang.
“Love tears me up like a demon.
Opens the wounds and fills them with lead,
and I’m having some trouble just breathing.
If we werent such good friends I think that I’d hate you.
If we weren’t such good friends I’d wish you were dead”
Karena gua bener-bener tipe cewek yang seperti itu, yang isi kepalanya mengawang-awang entah dimana, dan bertindak sebelum di pikir dua kali. I am a hero. But even a hero, bleeds.
Gua benci sendirian begini, merasa nggak jelas begini. Gua benci pulang ke rumah dan merasa bingung apa gua sebenernya mau nangis apa mau buang air besar. Karena rasanya sama.
Rasanya ingin sekali, tiba-tiba berada di Jepang lalu minum sake di bar sepulang kantor sampai mabok, sembari makan edamame, yang ditutup dengan acara karaokean. Lalu pulang ke apartemen gua yang sempitnya setengah mati dan terlalu capek untuk melakukan apa-apa lagi. Terlalu capek untuk kontemplasi. Dan mulai keesokan hari dengan rutinitas yang sama. Rasanya ingin untuk menjadi saking sibuknya, sehingga tidak ada waktu untuk merasa apa-apa.
Rasanya ingin sekali fast-forward sampai perasaan seperti ini hilang.
Sampai keesokan harinya, Diego nggak menelfon gua. Rasanya seperti menunggu tukang pos untuk bawa barang yang dipesan secara online.
Gua juga nggak tau kenapa seharusnya Diego menelfon gua. Gua ingin Diego menjelaskan, buat minta maaf, buat bilang. “Maaf aku khilaf, harusnya sekarang kita minum bir berdua dirumahku, makan kacang, nonton HBO dan generally, living life.”
Dan dia akan menyetir mobil gua, dan we drive into the sunset.
You have no idea how good that sounds in my head.