Chapter Enam. Bagian Satu.

2 Mei

Jadi Dita melihat gua ngobrol sama Ninda.

Big fuckin deal, right?

I shouldn’t care, tetapi iya gue peduli. Cara gue melihat hal adalah, ini bisa berjalan dua arah. Ini bisa mengatakan bahwa gue oke, dan gue getting by, dan gue nggak terlalu peduli apa kata orang. Tapi ini juga bisa mengatakan bahwa, gue terlalu ngoyo. Gue terlalu sengaja. Gue terlalu gimana-gimana.

Tetapi tentu saja dengan pikiran Dita, dia pasti mikir gue masuk yang kategori pertama. Ya Allah, hal-hal nggak bisa lebih miserable dari ini. Gue anak yang biasa-biasa aja. Cowok yang terlalu biasa bahkan, yang nggak blow my money all at once di club atau di some dodgy pijat plus-plus place.

I’m a good guy if you have some perspective.

Tapi rasanya aneh juga, karena memang masih ada yang mengganjal. Seperti tahi yang nggak bisa dikeluarkan meskipun lo mules sepanjang hari. Seperti menghisap rokok tapi nggak ngeluarin asapnya lagi. Seperti gue melakukan pekerjaan tapi nggak gue selesaikan.

Gue ama Dita emang ngak selalu sama-sama, tapi meskipun gue nggak pengen, dia ada di pikiran gue. Bohong kalo gue bilang gua 100% nggak ada keinginan untuk memeluk Dita yang sedang beli susu dan bilang:

“Ayo, pulang, biar Ninda dianter temen kamu yang botak gay dan sok-sok lihat-lihat korek itu”

Shit happens. Get on with it.

Gue sama Ninda ngobrol kemarin, gue mulai mengerti kenapa dia bisa dianggap murahan. The looks, the way that she looks at you, the sneer of her lips, the way she tosses her hair, the way she leans close to you when she talks. Tapi gue juga mengerti dia cuma cewek biasa. Cuma seorang cewek biasa lainnya yang lo bisa temuin di mana aja di Jakarta. Dia pengen hidup dengan cara dia sendiri, dan dia juga punya mimpi, punya aspirasi, yang akan dia capai dengan caranya sendiri yang nggak ortodoks. Ninda mengagetkan gue karena ternyata dia cukup luas pengetahuannya, dan cara berpikirnya praktis dan masuk akal. Seolah-olah dunia ini semua orang bisa dimasukkan di dua keranjang. Keranjang pribadi Ninda yang akan melabel setiap orang ‘berkenan’ dan ‘tidak berkenan’ di buku kecilnya.

Ninda nggak pernah melakukan kesalahan yang sama dua kali. Dia nggak pernah mess dengan orang yang sama dua kali.

When I’m done with her, surely gue akan masuk di keranjang ‘tidak berkenan’-nya dia.

Jadi gue stand by my decisions, dan tidak mencoba menghubungi Dita.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.