Chapter Empat. Bagian Empat.

28 Apr

on the way. to wherever

Kalau diingat-ingat, rencana awal gue hari ini cuma minta maaf sama Pak Lim, beli koran dan nongkrong di kantin bareng temen-temen gue sampe otak gue membusuk dan sampai-sampai gue lupa nama-nama negara-negara pecahan Uni Soviet. Tapi tidak, gue tiba-tiba harus ketemu Ninda dan alhasil dari spontanitas gue yang terlalu berlebihan, gue ajak dia nonton.

Lalu apa yang terjadi pas kita nonton?

Erm. Tidak banyak. Dan terimakasih Tuhan untuk itu, karena kalo dia tiba-tiba mendekat dan ingin merasa sebagai “wanita”, gue nggak tau gue bisa nolak apa engga. Satu hal yang paling disalahartiin orang dari Ninda adalah cara dia ngomong. Setiap kata yang keluar dari mulut dia pendek-pendek, dan dia tidak terlalu banyak omong. Cuma saat lo cerita dia kadang-kadang akan mengeluarkan sebuah senyuman dimana lo berani sumpah itu mirip sekali dengan sebuah innuendo untuk tiba-tiba menjambak rambut lurus-panjangnya dan..

Oh.

Gue mengerjapkan mata.

Ehm.

Gue menoleh ke samping. I said I’d take her home. Jadi sekarang gue di nyetir dengan Ninda disebelah gue. Silence. Ini bukan tipe kediaman yang canggung atau nggak nyaman, tapi tipe kediaman yang “peduli setan.” Gue jauh dari peduli apakah dia akan menganggap gue ngebosenin atau enggak, menarik apa enggak, lucu apa enggak, charming apa enggak dan segala tetek bengek lainnya.

I just don’t like her that much, I really don’t.

Im just desperate, aren’t I? Every five minutes Dita would come to mind and I’d feel guilty. And then I’d feel guilty about feeling guilty.

“Isi bensin dulu ya?” Gue belok kiri ke pom bensin di Pertanian yang ada mini marketnya. Ini salah satu pom bensin favorit gue. Gue sering banget mampir kesini sama Dita, terlepas dari kita isi bensin atau enggak.

Okay.” Ninda bahkan tidak menoleh kearah gue. Mungkin dia merasa di luar jendela ada sesuatu yang lebih menarik. Gue memilih pompa paling kanan. Gue keluar dari mobil dan menyelesaikan urusan pompa mempompa dan bayar membayar. Ketika gue masuk kembali ke dalem mobil, Ninda menoleh kearah gue.

Go, turun dulu yuk, gue pengen denger cerita lo sekali lagi..

Tag:

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.