Chapter Empat. Bagian Tiga.

5 Jun

Kantin, jam seharusnya anak kuliah ya kuliah.

I offered her a cigarette.
She took it. I even light it for her.

Jadi kita berdua duduk di kantin dan menunggu pesanan, meskipun bukan jam makan siang tapi kantin cukup penuh.

Ninda duduk di depan gue. Gue menoleh-noleh ke samping. Terlihat duduk berdua sama Ninda bukan hal yang bagus buat reputasi gue. Istilahnya, Ninda ini mudah untuk..diajak..ke..tempat..tidur. Begitu..kata..orang-orang. Ehm.

Di meja depan gue, temen satu jurusan gue yang namanya Dana nyengir-nyengir dan melakukan gerakan mendongakkan kepala dan melihat gue dengan tatapan sok tahu-sama-tahu.

What the hell.

Ninda..punya mantan lebih banyak daripada jumlah anak HI angkatan gue. Lo pasti mengira gue bilang gitu sebagai metafor kalau dia suka gonta-ganti pacar, tapi enggak. Apa yang gue bilang adalah fakta statistik karena anak HI tahun ini berjumlah 39 orang. Ninda bisa buka fakultas baru untuk menampung mantan-mantannya. Ninda bisa mengorganisir sebuah pertandingan bola besar dengan pemain, wasit, orang yang jaga garis, komentator yang terdiri dari mantan-mantannya dan masih sisa beberapa orang untuk menjadi penonton. Ninda bisa bikin party buat mantan-mantannya. Semacam exes gathering gitu lah. Tapi hebatnya, no one’s feelings were hurt. Canggih memang.

Istilahnya, kalo lo buka kamus. Foto Ninda ada di definisi kata canggih. Dengan sinonim: bispak. Kalo lo gak tau arti kata bispak. Jangan tanya ke nyokap lo, karena mungkin dia juga engga tahu.

Cuma, lima menit gue duduk di depan dia, sebenernya dia nggak seburuk itu, dia cuma salah dimengerti sedikit. Tapi pemikiran yang seperti inilah yang berbahaya, karena pikiran seperti itulah yang ingin ditimbulkan oleh cewek-cewek macam ini…

“Go,”

Ninda memecahkan lamunan gue.

“Ya?” Gue membuang abu rokok di bawah meja.

“Lo putus ya ama Dita?” Ninda mengikat rambutnya membentuk gulungan di atas seperti Buddha. Tapi entah kenapa, sangat..menarik.

“Iya, udah sebulan.”

“Rapi gak?” Ninda nanya ke gue sambil menoleh ke samping.

“Apanya? Putusnya?” Gue mengernyitkan jidat.

“Rambut guee. Rapi nggak?”

Ini adalah trik paling lama yang digunakan cewek-cewek untuk membuat cowok-cowok melihat fisik mereka satu detik lebih lama dan merasa terpaksa untuk mengatakan suatu kata pujian seperti “rapih kok”, atau “cantik kok”, atau bahkan “anjiiing lo minta dipake banget kalo rambut lo digituin..KOK.

Jadi gue mengikuti buku panduan dan berkata, “rapih kok.”

“Kenapa putusnya?”

Makanan kita dateng, dan gue ceritain sama dia menurut gue kenapa Dita mutusin gue.

And then I asked her if I could treat her to a movie, you know, just to say “thanks for listening”? Bisa dimengerti kan tindakan gue? Bisa kan?

Gue juga sebenernya kurang mengerti.

Tapi dia bilang “ayuuk” jadi gue cabut kuliah berikutnya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.