Nama gue Diego. Di depan gue ada Keeley Hazel sedng melakukan hal-hal yang dianggap ilegal di beberapa negara.
Right now somebody’s shaking the shit out of me.
Ahh. Ga tau apa gue hampir mimpi basah..
Didepan gue berdiri laki-laki tua bermuka oriental bergaya parlente dan kelihatannya berdompet tebal. Where was I again? Politik dan Ekonomi Cina Kontemporer.
Kuliah.
Oh iya.
Oh fuck.
“Diego, enak mimpinya?” Dosen gue namanya Pak Lim. Agak aneh sebenernya, Chinese ngajar politik. Tapi mungkin karena kuliah ini namanya Politik dan Ekonomi Cina Kontemporer, jadi the faculty had to get someone Chinese, no?
“Hampir pak, hampir enak”
Seluruh kelas tertawa. Here I am, a laughing stock.
Pak Lim berdiri tepat di depan meja gue. Bukannya Keeley Hazel. Di lengan jaket gue ada sedikit noda gelap. Bekas iler mungkin, atau keringet. Atau iler dan keringet.
Mata gue menyipit. Jiwa gue masih belum ngumpul, istilahnya begitu.
Gue menyipit lagi dan duduk tegak.
“Bapak..bertanya kepada saya?”
Pak Lim, menunjukkan kesabaran yang luar biasa, yang mungkin hanya dimiliki oleh penguasa kungfu kuno yang belajar di gunung salju dan tidak makan daging maupun berhubungan seks selama bertahun-tahun, menghela nafas.
“Saya ulangi ya Diego, menurut kamu, defisit perdangangan AS terhadap Cina itu tidak ada hubungannya dengan perang AS-Irak?”
“Erm..”
Kelas tiba-tiba diam, tadinya tidak ada yang peduli sam sekali tentang kebanyakan kuliah-kuliah jurusan Hubungan Internasional. Terlalu spesifik. Terlalu mengada-ada. Belajar saja dri koran. Begitu banyak orang bilang. Tapi sekarang, semua orang sepertinya sangat tertarik.
“Ya?”
Di otak gue, Pak Lim sedang memakai jubah panjang, dan mengangkat batu bata dengan jenggotnya.
Jadi gue mencoba buka-buka buku Contemporary Chinese Politics: An Introduction edisi terakhir.
“Sebentar pak.”
Dua menit berlalu. Kungfu master juga punya kesabaran.
“Diego-”
“AH”
“Menurut saya, eh maaf, bukan menurut saya, menurut fakta yang ada, anggaran untuk perang Irak itu tidak lebih dari 2% dari anggaran belanja AS, jadi menurut saya lebih dikarenakan oleheconomic boom di Cina yang mengakibatkan mata uang Cina menguat, yang berdampak,”
gue berhenti sebentar untuk alasan mendramatisasi,
”pada kenaikan harga barang yang diekspor menjadi lebih mahal.”
Sebelum Pak Lim bisa menjawab, gue menambahkan, “Bapak tau sendiri sekarang ekonomi Cina pertumbuhannya nomor satu di dunia.”
Gue bersandar lagi ke bangku gue.
I fucking win.
Dan itu kira-kira meresume-kan hari-hari kuliah gue yang sangat produktif.
Tag:sebelas.