chapter tiga. bagian tiga.

14 Mar

Masih di McD.

 

“Kamu kan bisa bilang, bisa cerita. Lagian, kampus kamu tuh tinggal ngesot juga udah nyampe ke kampus aku.”

See? See how uncomplicated it is to win my heart back?

“Iya..seharusnya aku ngomong ke kamu. Banyak yang mau aku ceritain. Terus terang aja, ini..ini..bukan waktu yang bagus buat aku untuk nggak punya pacar.”

“Diitaaaa!!”

Diego melepas tangannya dari tangan gua. Entah refleks atau kaget.

Gua menoleh, ternyata temen gua pas SMA. They’re everywhere. Kayak jamur di sup jamur.

Namanya Bianca, dulu dia duduk di sebelah gua. We were semi-best friends. Sejak gua jadian sama Diego, gua nggak punya sahabat. Sahabat yang tipe-tipe nginep bareng, jadi cewek-cewek bareng dan jadi genit bareng, gua nggak punya. Bianca was the closest to that, karena kita berdua sangat berbeda cara berpikirnya. Tapi gua selalu pengen tau apa pendapat dia.

Rasanya seperti baru kemarin lulus sekolah, padahal sudah tiga tahun.

“Haaai.”

Sebuah “Haaai” yang sangat lemah dan tidak berenergi.

“Haah. Diegooo!! Lo masih Go, sama Dita?”

“Nggg..”

Bianca adalah seorang non-conformist. Dia nggak punya Facebook.

Diego ngelirik gua, as if not sure what to say. Mau bilang iya, tapi secara teknis udah putus, mau bilang udah nggak, but yet here we are..

“Udah nggak Bi.” Diego tersenyum canggung.

Gua merasa perut gua turun sedikit.

Bianca cuma bilang “oh” dan kemudian tiba-tiba merasa harus buru-buru masuk untuk memesan makanan. Gua bilang ke Bianca, “I’ll call you.” Dan Bianca pergi.

“I missed you.” Diego membuat gua menoleh ke arahnya lagi.

“Baru sebulan Go.”

“Kita biasanya sama-sama tiap hari..”

“Hmm..aku ada. Kalau kamu butuh.”

“I need you. All the time.”

Dan pembicaraan seperti ini terus berlangsung. Diantara tangisan anak kecil, diantara priwitan tukang parkir, diantara suara ketawa yang dilebih-lebihkan sama cewek-cewek bercelana neon di meja sebelah. Untuk membuat cerita panjang mejadi pendek dan banyak rayuan menjadi hemat-rayuan, intinya:

“Aku mau balik lagi sama kamu.”

Mantan pacar gua yang baru sebulan putus. Sudah ngajak gua balik lagi. Say yes! Say yes! Setiap senti dari badan gua bilang begitu. Dan jangan salah, hati gua juga bilang begitu.

Tapi otak dan ego gua berkata:

“Oh.”

Persis seperti “Oh”-nya Bianca tadi.

Sama seperti “Oh” yang diucapkan ketika seseorang tidak sengaja menginjak tai kucing.

Truth is, thats what I want to hear. Gua menoleh kearahnya, udah lama gua nggak liat dia sedeket ini, i miss him. Gua meraih tangannya, tangannya yang besar membuat tenggelam tangan gua yang kayak tangan cicak. In his arms is where I belong.

Jadi kenapa gua bilang

“I‘ll think about it“?

I know what I think. I think I love him, dan gua cuma becandain diri gua sendiri kalo gua berpikir gua bisa menata ulang hidup gua dan nyari orang lain.

Jadi, kenapa?

Tag:

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.