Sabtu malam, keesokan harinya. Parkiran dcost kemang.
Nama gua Dita. I had a boyfriend once, namanya Diego. Gue tipe orang susah keluar, karena nyokap gue tipe orang yang, “anak perempuan sebaiknya dirumah.” But I always manage to get out of the house. Most of the time. Gua pengen banget bilang gua antisosial karena disengaja, but then I would be a hypocrite for all the time that I’m fed up with being alone.
Diego nelfon kemaren. He said he wanted to come to my house. Lalu gua berpikir, gua nggak pengen ada adegan sinetron di rumah gua, so I told him, I’d meet him somewhere. Dan emang gua pengen makan seafood.
Dan sekarang, gua lagi berdiri di tengah-tengah hiruk pikuk tukang parkir, supir dan pengunjung yang belom dapet tempat. What was I thinking?
Tapi gua ngak peduli semua itu, mata gua cuma tertuju sama Diego.
“Aku perlu kamu. Thing’s been crazy with my parents. You know, when my dad left and all.. Nyokap nggak ngomong sama aku lagi..Dia..Ninda. Ya Tuhan. Dia cuma..someone to talk to. Ive only gone out with her once.”
Dan sekarang. Gua lagi berdiri di depan laki-laki gondrong dengan sepatu Converse canvas putih bertuliskan “bonnie” di sepatu kiri dan “clyde” di sepatu kanan. Norak as fuck, but we made that shoe together.
“Kenapa kamu merasa perlu untuk bilang semua ini ke aku?”
This was my victory speech right here, dengan tangan dilipat dan alis gua naik sebelah, saat itu gua merasa punya lebih banyak girl power dari pada Agnes Monica lagi naik Vario.
Dan cuma gua yang tau apa isi hati gua, yang bunyinya kira-kira begini : “I love you. say you want me back, cause i’ll say yes.”
That and this deep sinking feeling in my stomach.
Tag:delapan.