Laki-laki gondrong itu diam. It was heartbreaking to see him NOT come up with an answer. Ya elah, hal-hal nggak bisa lebih dramatis dari ini. We’re still in the parking lot, standing around, arms crossed. Hari ini satu Jakarta sepertinya pengen makan kepiting telor.
Dari tadi ada beberapa temen SMA gua dan Diego yang lewat.
Things went on like,
“Loh? Dita, Diego? masih aja sama-sama..?”
Ada nada bertanya di semua orang yang nyapa kita. Kayaknya ada yang ulang tahun di dalem, anak Trisakti kayaknya. It’s been like that for the whole 30 minutes. Terus sebelum gua sempet membantah, mereka udah ngeloyor pergi. Cipika cipiki, lalu “dadaah gua masuk dulu ya.”
Theyve been checking our Facebook profiles, no doubt.
Diego cuma senyam-senyum aja dari tadi. Lalu dia bilang, “Do you wanna go..somewhere?”
So I said yes, dan kita ninggalin mobil kita yang parkir di ruko sebelah dan jalan kaki ke tempat uber-trendy dan paling happening di kemang…
McDonalds.
So we sat outside. Meskipun di McD nggak ada pemain piano atau promosi wine, this felt like a date. Bittersweet.
“Yeah, I know. But I need you.”
That was the answer to my question. That’s all he came up with. And this was said between takes of fries. And McFlurry. At the same time. Sebagai cewek yang punya girl power sebesar Ginger Spice dengan tube dress Union Jack-nya, i was defenseless.
Next to me was a guy in badly need of a haircut, left hand: french fry dipped in ice cream, right hand: my hand, he would not let go. How can you not melt?
Tag:sembilan.