Jumat malam. Parkiran warnet di Jl. Lamandau.
Nama gue Aditya Diego.
Beberapa akhir ini, gue membiarkan rambut gue tumbuh. Gue nggak pernah gondrong sebelumnya.
Sebulan yang lalu gue sama pacar gue putus. Sekedar informasi, gue yang diputusin. Gue sekarang lagi memakai sepatu converse canvas yang gue gambar sendiri coraknya. Sekedar informasi, gue nggak bisa gambar. Gue pengen bilang sepatu kiri gue tulisannya adalah “Bonnie” dan sepatu kanan gue adalah “Clyde” dengan gaya sok grafitti. Tapi ke orang awam mungkin lebih terlihat seperti kotoran yang mengambang. Sepatu ini dari Dita, cewe gue. Gue masih refer ke dia sebagai cewe gue. Gue menemukan diri gue ngomong “cewe gue begini, cewe gue begitu, cewe gue..”
Lalu tiba-tiba pasti akan selalu ada temen gue yang ngomong.
“Cewe lo cewe lo, lo tuh udah diputusin!”
Dan selalu akan gue jawab, “Cewe gue itu sayang sama gue. itu yang penting.”
There was never anything extraordinary in my life, except her.
Gue sekarang lagi literally nongkrong di depan warnet pinggir jalan. Literally nongkrong as in..jongkok. Gue liat-liat foto di handphone gue.
Gue liat-liat lagi dan menghela nafas di setiap foto. Karena di setiap foto itu gue terlihat euphoric. Like I was on drugs, except I wasn’t. Dita bikin gue “naik”, secara natural. Pictures at her house, at my house. Pictures at parties. We used to go to a lot of parties in high school. Kita selalu dateng telat dan hanya datang buat makan. Sometimes we wouldn’t even be invited, but who notices? Little thrills. Kalo udah kenyang, we’d go to the parking lot and smoke. We’d have serious, life defining conversations in the car after that. At every place we’ve been to, the parking lots are the best spot.
Nggak ngerti kenapa, beberapa bulan yang lalu dia udah mulai bosen kayanya sama gue. She’d fucking look out the window when I drive her home. She’d not pick up my call. She’d say she fell asleep. Dia bilang dia kemaren tidur jam 8 malem.
Satu hal yang gue tau dari cewe gue ini, dia ngak pernah tidur.
Tag:lima.