I kinda thought that I’d be better off by myself
I’ve never been so wrong before
You made it impossible for me to ever
Love somebody else
And now I don’t know what I left you for
Nama gua Anindita Hariadi. Rambut, berantakan. Perawakan, lumayan. Lumayan ancur maksudnya. If you like me, berarti lo tipe orang yang berpikir “sifat lebih penting daripada penampilan.” Pendek. Bego tapi sok pinter. Atau pinter tapi sok bego? Tergantung persepsi masing-masing. Peduli tapi sok cuek. Cuek tapi butuh perhatian. Haus perhatian khusus dari semua laki-laki. Kata orang sih begitu.
Gua suka banget lagu ini. Ini seperti adegan dari film. Dimana gua adalah anti-heroine yang menyetir dengan jendela terbuka, sisi kanan rambut gua berantakan ditiup angin. Di antara jalan tol Pondok Indah-Depok yang hanya berjarak tiga pintu tol dengan tarif flat enam ribu rupiah yang terasa cukup lama malem ini. Cukup lama untuk berkontemplasi mengenai hal-hal.
Gua melihat jok disebelah gua. Kosong. Biasanya emang gua yang ada di kursi penumpang. He’d drive my car and I’d be next to him. Nyender ke bahunya, tangan gua di pinggangnya, mencium bau keringet campur colognenya kayak nggak ada hari besok. 3 years gone and we still do that. Seenggaknya sebelum sebulan yang lalu..
Ah. Atau beberapa hari yang lalu. Bagai orang sakau yang mengalami relapse.
Jalanan basah sehabis hujan. Waktu menunjukkan jam 8 tepat. Lagu ini terus gua repeat.
Tag:satu.