Kalau ini adegan dari film, pasti disisipi flashback adegan-adengan dari awal tiga tahun lalu. Three fucking years down the drain. Rasanya gua pengen nangis tapi gua paling benci ditanya-tanya sama nyokap gua. Dan mata bengkak karena nangis akan menimbulkan pertanyaan yang sangat besar buat nyokap gua. Gua memaksakan senyuman. Gua selalu latihan dulu sebelum sampai rumah dan benar-benar memaksakan senyuman buat nyokap gua.
Rasanya tiga tahun itu cepat sekali kalau dilewatkan bersama orang yang sama. Orang yang itu-itu saja. Orang yang buat gua seneng setengah mati. Orang yang buat gua sedih setengah mati lagi. Kalo aja gua matinya nggak stengah-setengah mungkin gua udah mati beneran sekarang.
Oh I’d die for him. I would.
I’m spoiled
By your love boy
No matter how I try to change my mind
What’s the point it’s just a waste of time
Fucker. Dia pikir dia siapa? Berasa di atas awan. He’d call me all the time. He’d meet me between classes. He’d drive me home.
Dan kita sudah putus. Sebulan yang lalu. Tapi seminggu ini tiba-tiba dia laki-laki paling sensitif dan paling nggak memiliki ekspektasi sedunia and memperlakukan gua kayak..dia baru mau deketin gua waktu tiga tahun lalu.
Jadi gua seperti perempuan-perempuan lainnya, meskipun berperawakan berantakan, pasti berharap kan? Berharap kita bisa balik lagi? Berharap beginilah cara gua akan diperlakukan selama hidup gua? Berharap kita akan lulus kuliah sama-sama? Berharap kita berdua akan kerja di top 10 perusahaan bonafit 2009 versi majalah Fortune Indonesia? Dan brunches di Setiabudi, appartments at Rasuna? And we’d get married? Dan dia akan jadi bapak buat anak-anak gua?
Oke. Mungkin tidak juga. Mungkin bagian perusahaan bonafit majalah Fortune 2009 agak terlalu berlebihan. IP gua jelek.
Kemarin gua liat dia sama Ninda.
Tag:dua.